Kamis, 05 Mei 2011

AKUNTANSI USAHA PABRIK (SISTEM AKUNTANSI BIAYA PESANAN)

1.      PROSES PRODUKSI DAN B IAYA PRODUKSI


Proses produksi merupakan suatu kegiatan mengubah bahan baku/mentah menjadi barang jadi. Pada proses produksi ini melibatkan 2 biaya produksi yaitu (1) biaya primer dan (2) biaya konversi.
Biaya primer merupakan gabungan dari biaya bahan mentah langsung dan buruh langsung, sedangkan biaya konversi merupakan gabungan dari biaya bahan mentah langsung dan overhead pabrik.
Berikut ini adalah gambar proses produksi yang melibatkan 2 macam biaya :

Bahan Mentah Langsung
Buruh Langsung
Overhead Pabrik
 
 

Biaya Primer
 
 
 



Dalam usaha pabrik, dikenal 3 macam Persediaan:
1.       Persediaan bahan baku berupa bahan yang tersedia untuk diproses menjadi produk jadi.
2.       Persediaan barang dalam proses, berupa barang yang pada akhir suatu periode tertentu (biasanya pada akhir tahun buku) belum selesai diproses, belum jadi produk jadi dan masih memerlukan produk lebih lanjut.
3.       Persediaan produk jadi, berupa barang-barang yang siap untuk dijual atau dipasarkan.

Untuk kegiatan proses produksi diperlukan laporan harga pokok produksi, sedangkan untuk kegiatan perdagangan diperlukan laporan laba rugi. Kedua laporan tersebut di atas memerlukan data untuk menentukan atau menghitung pemakaian bahan baku, tenaga kerja langsung dan overhead pabrik dalam kegiatan proses produksi, serta harga pokok penjualan.

Perhatikan! Bagan di bawah ini yang akan menggambarkan arus biaya dalam perusahaan manufaktur dan dari bagan tersebut dapat dilihat bahwa biaya penggunaan bahan mentah langsung akan menjadi bagian dari harga pokok produksi dan harga pokok penjualan.


Bahan Mentah Langsung
Barang Dalam Proses
Barang Jadi
Persediaan Awal
+ Pembelian
Persediaan Awal
+ Bahan mentah langsung yg
   digunakan
+ Buruh Langsung
+ Overhead Pabrik
Persediaan Awal
+ Harga Pokok Produksi
= Bahan mentah langsung yang
   dapat digunakan
- Persediaan akhir
= Sub total

- Persediaan akhir
= Barang yg tersedia untuk dijual
- Persediaan akhir
= Bahan mentah langsung yang  
   digunakan
= Harga Pokok Produksi
= Harga Pokok Penjualan



2.      AKUNTANSI BIAYA


Sistem biaya pesanan adalah suatu sistem akuntansi yang digunakan oleh perusahaan yang memproduksi barang secara individu atau dalam berkelompok-kelompok (batch) yang setiap pekerjaannya memerlukan berbagai macam keahlian dan dapat dibedakan. Industri pesawat terbang dan mebel/furniture merupakan contoh industri yang menggunakan sistem biaya pesanan. 
            Dalam sistem akuntansi biaya pesanan (job-order-cost-system) informasi yang sangat penting yang harus dapat disajikan oleh sistem itu adalah informasi biaya proses produksi untuk setiap pesanan. Informasi ini disajikan oleh akuntansi kartu-kartu pesanan (job-order-cost-sheet). Sedangkan informasi biaya proses produksi secara kolektif, keseluruhan, dicatat dalam rekening barang dalam proses.
            Selain itu juga merupakan hal yang penting dalam sistem akuntansi biaya pesanan adalah alokasi biaya overhead pabrik. Sulit untuk ditelusuri terjadinya biaya overhead pabrik pada tiap-tiap pesanan. Biaya overhead pabrik merupakan biaya yang bersifat umum, artinya biaya untuk kepentingan semua pesanan. Oleh karena itu timbul masalah pembebanan  biaya overhead pabrik itu, masalah ini dipecahkan dengan menggunakan tarif. Dengan tarif akan menimbulkan masalah baru lagi, yaitu biaya overhead yang sesungguhnya terjadi mungkin tidak sesuai dengan yang dibebankan ke proses produksi. Dengan timbulnya masalah lebih atau kurang pembebanan, ada cara-cara tertentu untuk menghapus kelebihan atau kekurangan itu akan tetapi untuk sementara dalam modul ini disesuaikan saja pada harga pokok penjualan.
Pengertian akun induk dan akun-akun dalam buku besar pembantu juga digunakan dalam sistem ini, umpamanya akun barang dalam proses dan kartu pesanan.
Langkah-langkah yang harus dilakukan dalam menentukan tarif  biaya overhead pabrik sebagai berikut:
1.       Menaksir jumlah biaya overhead pabrik untuk satu periode yang akan dating periode yang akan dijalani.
2.       Menaksir jumlah kegiatan yang akan dihubungkan dengan alokasi biaya overhead pabrik umumnya jumlah jam tenaga kerja langsung atau jumlah upah langsung selama periode yang sama dengan butir 1.
3.       Menentukan tarif sebagai berikut.
                       
                        Taksiran Biaya Overhead Pabrik                       
                                                                                                * 100
                        Taksiran Biaya Tenaga Kerja Langsung

4.       Tentukan pembebanan lebih atau kurang untuk departemen 1 beserta jumlahnya.
5.       Sama dengan pertanyaan no. 4 di atas bagi departemen 2.

Contoh Soal :
PT Budiman, sebuah perusahaan mebel menggunakan sistem biaya pesanan dalam menghitung harga pokok produksi dari barang yg dihasilkannya. Data usaha pabrik PT Budiman untuk periode 2004 sebagai berikut :





Persediaan bahan mentah awal………….. …………..…………..
Rp 1.000.000,00
Persediaan bahan mentah akhir…………..…………..……………
 750.000,00
Barang dalam proses awal…………..…………..…………..………
 700.000,00
Barang dalam proses akhir…………..…………..…………..………
 600.000,00
Persediaan produk jadi awal …………..…………..…………..……
 1. 700.000,00
Persediaan produk jadi akhir …………..…………..…………..……
 800.000,00
Biaya overhead pabrik …………..…………..…………..…………..
 1.200.000,00
Biaya tenaga kerja langsung …………..…………..…………..……
 950.000,00
Pembelian bahan mentah …………..…………..…………..……….
 2.400.000,00
Penjualan bersih …………..…………..…………..………………….
 8.550.000,00
Biaya usaha …………..…………..…………..………………………
 2.125.000,00
Pendapatan luar usaha …………..…………..…………..………….
    250.000,00
Kerugian luar biasa …………..…………..…………..………………
 125.000,00

Hitunglah :
a)       pemakaian bahan mentah dalam produksi
b)      jumlah biaya produksi
c)       harga pokok produk jadi
d)      harga pokok penjualan
e)      laba bersih sebelum kerugian luar biasa

Penyelesaian :

a)
Pemakaian bahan mentah


Persediaan bahan mentah awal…………………...      
Rp 1.000.000,00

Pembelian bahan mentah ………………………………
2.400.000,00

Bahan baku tersedia ……………………………………
3.400.000,00

Persediaan bahan mentah akhir ……………………….
(750.000,00)

Jumlah pemakaian bahan mentah dlm proses ……….
2.650.000,00



b)
Biaya Produksi


Barang dalam proses awal ………………………………
Rp    700.000,00

Jumlah pemakaian bahan mentah ………………………
2.650.000,00

Jumlah biaya tenaga kerja langsung ……………………
950.000,00

Jumlah biaya overhead pabrik …………………………...
1.200.000,00

Jumlah biaya produksi ……………………………………
5.500.000,00



c)
Harga pokok produk jadi


Barang dalam proses, awal ………………………………
Rp   700.000,00

Jumlah pemakaian bahan mentah ………………………
2.650.000,00

Jumlah biaya tenaga kerja langsung ……………………
950.000,00

Jumlah biaya overhead pabrik …………………………..
1.200.000,00

Jumlah biaya produksi ……………………………………
5.500.000,00

Barang dalam proses akhir ………………………………
(600.000,00)

Jumlah harga pokok produk jadi …………………………
4.900.000,00







d)
Harga pokok penjualan


Persediaan produk jadi, awal …………………………….
Rp 1.700.000,00

Jumlah harga pokok produk jadi …………………………
4.900.000,00

Jumlah produk jadi tersedia ………………………………
6.600.000,00

Persediaan produk jadi akhir ……………………………..
(800.000,00)

Harga pokok penjualan ……………………………………
5.800.000,00



e)
Laba bersih sebelum kerugian luar biasa


Penjualan bersih ……………………………………………
Rp 8.550.000,00

Harga pokok penjualan ……………………………………
      (5.800.000,00)

Laba kotor …………………………………………………..
2.750.000,00

Biaya usaha …………………………………………………
(2.125.000,00)

Laba usaha …………………………………………………
625.000,00

Pendapatan luar usaha …………………………………….
250.000,00

Laba bersih sebelum pos luar biasa ……………………...
875.000,00




                                                                        

Senin, 02 Mei 2011

LAPORAN ARUS KAS

Dengan adanya Laporan Laba/Rugi dan Neraca, kita bisa mengetahui posisi keuangan perusahaan pada saat tertentu (dilihat dari Neraca) dan mengetahui hasil aktivitas usaha (Laba atau Rugi) perusahaan untuk periode tertentu. Akan tetapi karena laporan keuangan sebagian besar menganut sistem accrual (pendapatan dan cost/biaya diakui pada saat transaksi terjadi meskipun realisasi kas belum terjadi).

Adapun fungsinya adalah untuk mengetahui realisasi kas masuk dan keluar perusahaan, sehingga dapat diprediksi potensi realisasi kas di masa yang akan datang (tingkat liquiditas). Termasuk juga untuk mengetahui potensi kemampuan perusahaan untuk membagikan keuntungan perusahaan kepada pemegang saham dalam bentuk kas (pembagian dividen),

Bukankah saldo akhir kas sudah bisa dilihat pada Neraca ?....

Benar, tetapi dari neraca, belum tergambar secara terperinci, mengenai :
(-) Dari aktivitas apa saja kas dihasilkan ?
(-) Untuk aktivitas apa saja kas dikeluarkan ?.

Untuk itulah, Laporan Arus Kas diperlukan.


Elemen-elemen Laporan Arus Kas
Realisasi Kas (kas masuk/keluar) dikelompokkan ke dalam tiga jenis aktifitas, yang selanjutnya menjadi elemen Laporan Arus Kas, yaitu :

Aktifitas Operasi (Operating Activities)
Arus kas (masuk/keluar) yang berasal dari kegiatan utama perusahaan (yang biasa disebut operasional perusahaan), yang tercermin dari Laporan Laba/Rugi perusahaan.

Aktifitas Investasi (Investing Activities)Arus kas (masuk/keluar) yang berasal dari aktivitas-aktivitas investasi. Kegiatan yang digolongkan ke dalam kelompok ini adalah semua kegiatan kas yang terkait dengan aktifitas pembelian/penjualan aktiva perusahaan, penerimaan/pengeluaran kas terkait dengan piutang perusahaan dengan entitas lain.

Aktifitas Pendanaan (Financing Activities)
Arus kas yang berasal dari transaksi utang (kewajiban) perusahaan, baik yang berupa penambahan maupun pelunasan utang. Arus kas yang berasal dari penerbitan saham atau instrument sekuritas lainnya pun dimasukkan ke dalam kelompok ini.

KAS KECIL

Kas Kecil adalah uang kas yang disediakan untuk membayar pengeluaran-pengeluaran yang jumlahnya relatif kecil dan tidak ekonomis bila dibayar dengan cek.
Salah satu prinsip pokok dalam pengawasan terhadap pengeluaran kas adalah bahwa semua pengeluaran kas hendaknya dilakukan dengan menggunakan cek, kecuali pengeluaran kas dilakukan melalui kas kecil. Untuk pengeluaran kas yang jumlahnya kecil dan rutin jika menggunakan cek maka akan menghabiskan cek banyak, hal ini menjadi tidak ekonomis.
Maka dibentuk kas kecil untuk membiayai pengeluaran-pengeluaran yang relatif kecil nominalnya seperti pengeluaran untuk biaya pos, perangko, fax, pembelian alat tulis, fotocopy, dll. Untuk membentuk suatu kas kecil, perusahaan harus menaksir jumlah kas yang diperlukan untuk jangka waktu tertentu, misalnya satu minggu atau satu bulan. Jurnal pembentukan kas kecil yaitu :
Kas Kecil Rp 2.000.000
Bank Rp 2.000.000
Ada dua metode yang digunakan untuk mencatat kas kecil yaitu :
1. Sistem Imprest
Dalam sistem ini jumlah rekening kas kecil selalu tetap yaitu sebesar cek yang diserahkan kepada kasir kas kecil untuk membentuk dana kas kecil. Setiap kali melakukan pembayaran, kasir kas kecil harus membuat bukti pengeluaran, apabila jumlah kas kecil tinggal sedikit dan juga pada akhir periode kasir kas kecil akan minta pengisian kembali kas kecilnya sebesar jumlah yang sudah dikeluarkan. Pada sistem imprest pengeluaran kas kecil baru dicatat pada saat pengisian kembali.
2. Sistem Fluktuasi
Pada metode fluktuasi saldo kas kecil tidak tetap tetapi berfluktuasi sesuai dengan jumlah pengeluaran-pengeluaran kas kecil. Dalam metode fluktuasi setiap terjadi pengeluaran kas kecil langsung dicatat, jadi buku pengeluaran kas kecil mempunyai fungsi sebagai buku jurnal dan menjadi dasar untuk pembukuan ke rekening-rekening buku besar

KAS

Kas menurut pengertian akuntansi adalah alat pertukaran yang dapat diterima untuk pelunasan piutang, dapat diterima sebagai setoran ke bank dengan jumlah sebesar nominalnya, juga simpanan dalam bank atau tempat lain yang dapat diambil sewaktu-waktu.
Kas terdiri dari uang kertas, uang logam, cek yang belum disetorkan, simpanan dalam bentuk giro atau bilyet, traveller check, cashier check, bank draf dan money order.
Yang tidak termasuk Kas yaitu :
- Wesel tagih, jika ada wesel tagih yang diserahkan ke bannk untuk ditagihkan, maka wesel tersebut tetap dicatat sebagai piutang wesel.
- Perangko, kadang perangko dapat digunakan untuk pembayaran yang jumlahnya kecil, tetapi perangko tidak diterima sebagai setoran oleh bank, oleh karena itu perangko bukan kas.
- Cek Mundur (Post Date Checks)
- Surat-surat berharga seperti saham, obligasi
- Simpanan pada bank-bank di luar negeri atau tabungan dalam dalam mata uang asing.
- Uang kas yang dibatasi penggunaannya, biasanya dalam bentuk dana, tidak dimasukkan dalam kas tetapi dilaporkan terpisah sebagai dana. Contoh : dana bantuan, kredit usaha mikro. Jika penggunaannya masih dalam waktu satu tahun maka termasuk dalam kelompok aktiva lancar, tetapi jika tidak dapat digunakan untuk pengeluaran dalam satu tahun maka dilaporkan dalam kelompok aktiva tidak lancar.
Dalam prakteknya, kadang kas dikelompokkan menjadi dua yaitu Kas Kecil dan Kas Besar. Kas Kecil digunakan untuk operasional sehari-hari dan jumlahnya tidak terlalu besar. Biasanya digunakan untuk biaya operasional seperti biaya administrasi, biaya telepon, listrik, dll. Kas besar biasanya digunakan untuk menampung penerimaan Piutang, Pinjaman bank, pengeluaran untuk membayar utang, pengeluaran untuk membeli aktiva.

JURNAL PENUTUP

Selama proses akuntansi berjalan, seluruh rekening nominal yang terdiri atas pendapatan dan beban digunakan sebagai rekening untuk mengklasifikasikan dan mengikhtisarkan rekening modal. Pada akhir periode akuntansi, seluruh rekening nominal tersebut harus ditutup dengan saldo nol (tidak memiliki saldo).
1. Jurnal Penutup
Seperti pada perusahaan jasa, jurnal penutup pada perusahaan dagang digunakan untuk menutup rekeningrekening nominal, yaitu rekening yang berkaitan dengan pendapatan dan beban. Hanya saja untuk laporan yang menggunakan metode harga pokok penjualan untuk rekening pembelian, biaya angkut pembelian, retur dan pengurangan harga serta potongan pembelian tidak lagi dibuat ayat penutupnya karena rekening-rekening tersebut saldonya sudah nol. Ayat-ayat penutup yang digunakan untuk menutup rekening nominal sebagai berikut.
a. Menutup pendapatan, yaitu semua rekening pendapatan di debit sebesar saldo masing-masing rekening, sedangkan rekening ikhtisar laba rugi di kredit sebesar jumlah semua rekening pendapatan. 
b. Menutup beban, yaitu semua beban di kredit sebesar saldo tiap rekening dan rekening ikhtisar laba rugi di debit sebesar jumlah total rekening beban. Adapun jurnalnya adalah :
c. Menutup perkiraan ikhtisar laba rugi, yaitu jika total sisi debit lebih kecil daripada kredit maka menunjukkan laba.
e. Menutup prive, pada umumnya rekening prive,…. Ini bersaldo debit sehingga akan mengurangi modal perusahaan. 
Setelah jurnal penutup dibuat, selanjutnya dilakukan posting ke buku besar masing-masing dan dibuat neraca saldo setelah penutupan untuk mengetahui keseimbangan (balance) dan kebenaran dari tiap-tiap rekening sebelum memulai pencatatan pada periode berikutnya. 

JURNAL PENYESUAIAN

Tujuh transaksi yang diikuti oleh jurnal penyesuaian pada akhir periode akuntansi adalah sebagai berikut.
1. pendapatan diterima di muka,
2. piutang pendapatan,
3. biaya dibayar di muka,
4. utang biaya,
5. kerugian piutang,
6. penyusutan, dan
7. biaya pemakaian perlengkapan.

Mencatat Jurnal Penyesuaian Berikut ini adalah contoh data penyesuaian dan jurnalnya.
1. Pendapatan diterima di muka
Pendapatan diterima di muka adalah jika perusahaan menerima pendapatan atas suatu barang/jasa yang belum diserahkan.
Contoh:
Pada tanggal 3 Agustus 2008, Charity membayar sewa kios selama 1 tahun sebesar Rp6.000.000,00
Jurnal tanggal 3 Agustus 2008 adalah.
Kas Rp6.000.000
Pendapatan diterima di muka Rp6.000.000
(Dicatat oleh pemilik kios)

Pada waktu tutup buku tanggal 31 Desember 2008, jurnal penyesuaiannya adalah sebagai berikut.
Pendapatan diterima di muka Rp2.500.000
Pendapatan sewa Rp2.500.000

Penjelasan :
Pada tanggal 3 Agustus 2008 pemilik kios menerima uang sebesar Rp6.000.000,00, tetapi bekum sepenuhnya menjadi hak pemilik kios, karena sewa tersebut untuk satu tahun, buka satu bulan. Karena pemilik kios sudah menerima secara tunai, bekiau mencatat Kas Rp6.000.000 (D) pada Pendapatan diterima di muka Rp6.000.000 (K).
Jika kita memakai dasar akrual, pendapatan diakui jika sudah menjadi haknya. Dalam contoh tersebut, hingga akhir periode akuntansi tanggal 31 Desember 2008 yang menjadi hak pemilik kioshanya 5 bulan, yaitu Rp2.500.000 (5/12 x Rp6.000.000= Rp2.500.000).

2. Piutang pendapatan
Piutang pendapatan adalah pendapatan yang belum diterima dan belum dicatat, tetapi sebagian sudah seharusnya diterima pada periode yang bersangkutan.
Contoh:
Tanggal 1 September 2008 PT X menyimpan uang di bank Pasifik Rp1.000.000, suku bunganya 18% / tahun dan bunga diterima oleh PT X setiap 6 bulan sekali. (tiap 1 Maret dan 1 September ). Ini berarti bunga 6 bulan pertama baru akan diterima tanggal 1 Maret 2009, sehingga sampai akhir periode akuntansi terdapat bunga yang diterima penendaannya selama 4 bulan. ( 1 September – 31 Desember) yaitu : 4/12 x 18% x Rp1.000.000,00 = Rp60.000

Jurnal penyesuaian untuk mencatat piutang bunga pada tanggal 31 Desember 2008 adalah sebagai berikut.
Piutang bunga Rp60.000
Pendapatan bunga Rp60.000

3. Biaya dibayar di muka
Biaya dibayar di muka adalah biaya-biaya yang sudah dibayar pada awal periode untuk pembayaran biaya sampai beberapa periode yang ditentukan.
Contoh:
Pada tanggal 1 Mei 2008 pemilik kios membayar biaya asuransi untuk periode satu tahun kepada PT Aman sebesar Rp3.000.000
Pada tanggal 31 Desember 2008, saat pembuatan jurnal penyesuaian adalah sebagai berikut.

Biaya asuransi Rp2.000.000
Asuransi dibayar di muka Rp2.000.000

Penjelasan :
Pada tanggal 31 Desember 2008 asuransi yang sudah terpakai (biaya asuransi) saebesar Rp2.000.000 yaitu selama 8 bulan, dari bulan Mei sampai dengan bulan Desember. Perhitungannya adalah 8/12 x Rp3.000.000= Rp2.000.000

4. Utang biaya
Utang biaya adalah biaya-biaya yang telah diakui tetapi belum dicatat.
Contoh:
Perusahaan membayar upah buruh setiap tiga hari sekali. Tarif upah Rp50.000 per hari. Para buruh dibayar tiap hari Senin. Ternyata tanggal 31 Desember 2008 jatuh pada hari Minggu. Ini berarti sampai akhir periode akuntansi terdapat upah yang belum dibayar selama tiga hari = 3 x Rp50.000 = Rp150.000

Jurnal penyesuaian yang dicatat perusahaan adalah.
Beban gaji Rp150.000
Utang gaji Rp150.000

5. Kerugian Piutang
Kerugian piutang adalah taksiran kerugian piutang yang timbul karena adanya piutang tak tertagih.
Contoh:
PT XYZ merelakan piutang Tuan B sebesar Rp200.000,00 karena usahanya bangkrut.

Jurnal penyesuaian yang dicatat PT XYZ pada tanggal 31 Desember 2008 adalah.
Cadangan kerugian piutang Rp200.000
Piutang usaha Rp200.000

6. Penyusutan
Semua aktiva tetap (kecuali tanah) yang dimiliki dan digunakan oleh perusahaan dalam beroperasi, akan semakin menyusut nilainya bersamaan dengan berlalunya waktu.
Contoh :
Di daftar saldo, akun peralatan kantor memperlihatkan jumlah Rp2.000.000,00, diputuskan manajemen bahwa penyusutan 10% pertahun. Ini berarti penyusutan tiap tahun = 10% x Rp2.000.000 = Rp200.000

Jurnal penyesuaian pada tanggal 31 Desember 2008 adalah sebagai berikut.
Beban penyusutan peralatan kantor Rp200.000
Akumulasi penyusutan peralatan kantor Rp200.000

7. Biaya pemakaian perlengkapan
Biaya pemakaian perlengkapan adalah nilai sebagian dari harga beli perlengkapan yang telah digunakan selama periode akuntansi.
Contoh:
Perlengkapan di daftar saldo memperlihatkan jumlah Rp500.000, setelah dihitung secara fisik persedeiaan perlengkapan pada tanggal 31 Desember 2008 sebesar Rp300.000. Ini berarti perlengkapan yang telah terpakai untuk kegiatan perusahaan berjumlah Rp200.000 (Rp500.000 – Rp300.000 = Rp200.000)

Jurnal penyesuaian untuk mencatat biaya pemakaian perlengkapan tanggal 31 Desember 2008 adalah.
Beban perlengkapan Rp200.000
Perlengkapan Rp200.000